Harapan, sebuah kata yang selalu diinginkan oleh semua orang untuk datang menghampirinya, tidak lain agar mereka berhasil dan sukses dengan apa yang ingin dicapai. Harapan banyak memenuhi otakku, sebagai “kaum underclass yang terhina” kata “harapan” menjadi ujung dari impian yang terlalu sulit untuk diwujudkan oleh kami (“kaum underclass terhina”).
Dalam tatanan kehidupan, manusia memang diciptakan beberapa kelas2, kelas2 tersebut dibagi2 lagi tergantung diurutkan melalui kategori apa. Dalam kategori materi, manusia bisa kita sebut dibedakan menjadi kaum bawah / underclass dan kaum atas / highclass. Sebenernya aku tidak mempermasalahkan 2 kategori tersebut, karena aku sudah berkeyakinan bahwa perbedaan itu akan membentuk suatu kesatuan yang harmonis dan saling melengkapi. Yang aku perbincangkan pada tulisan ini hanyalah kenapa kaum highclass tak pernah menghargai perbedaan itu, kenapa mereka selalu meremehkan dan memaki kaum underclass.
Sebagai kaum underclass, kami memang sulit untuk mendapatkan pengakuan. Malah lebih dibilang sering mendapat harapan kosong yang tak pernah terwujud dalam kenyataan. Mimpi adalah sesuatu yang indah, mungkin hanya mimpi yang dapat membangkitkan semangat hidup kami, bahkan terkadang kami lebih mengharapkan hidup dalam mimpi daripada hidup dalam nyata.
Salah satu patokan yang menandakan ketidak-beruntungan kami sebagai kaum underclass adalah wanita. Kenapa aku pilih faktor wanita, ya sebagai anak muda, faktor wanita menjadi faktor utama biasanya. Haha.
Wanita selalu menghindari kaum underclass pria, mereka kebanyakan memilih para pria highclass yang mengandalkan harta orang tua dan menyodorkan kesombongan atas apa yang sebenernya tidak dia miliki. Memang mungkin para wanita jaman sekarang memandang pasangan lebih daripada materi, kendaraan dan uang adalag contoh nyata. Sekarang pasti sering kita dengar dari omongan2 publik, wanita mencari materi bukan sesuatu yang sejati.
Banyak faktor menjadikan hal tersebut menjadi hal biasa dalam tatanan kehidupan saat ini, keluarga dan teman misalnya. Orang tua seperti mendekti dan mendoktrin anaknya ketika mereka selalu bilang bahwa cari pasangan itu yang kaya, pasti hidup akan enak. Padahal kalu kita telisik lagi hidup yang enak itu bukan masalah materi dan harta saja, tapi banyak indikatornya. Kebahagiaan tercapai melalui proses dengan tujuan yang jelas. Harta memang termasuk dalam indikator suksesnya hidup yang enak tersebut, tapi kita juga tidak bisa semena-mena menyimpulkan kebahagian/ hidup yang enak itu adalah melalui uang. Coba kalian (terutama kaum wanita) mempunyai pasangan yang kaya, tapi dia tidak mempunyai ketulusan. Artinya segala sesuatu diukur dari uang. Contoh kasus, seorang istri sakit parah namun hanya dibawa ke puskesmas kecil daripada rumah sakit berstandar internasional hanya karena perhitungan uang, suami yang dianggap kaya tersebut penghematan adalah segalanya, bahkan mengalahkan kesehatan orang terdekatnya. Ada juga cerita tentang seorang ibu kaya-raya yang hidup dan tinggal berdua dengan anak tunggalnya, pada suatu ketika sang anak kecelakaan dan membutuhkan cukup biaya untuk operasi, sang ibu malah menyarankan perawatan biasa padahal uangnya cukup melimpah bahkan bisa dibilang dia dapat membeli rumah sakit tersebut. Dan apa yang terjadi pada anak itu, kakinya diamputasi karena tidak dibawa ke meja operasi hanya karena faktor “Ketuhanan Uang”, sang ibu terlalu saying pada uang daripada kaki anak semata wayangnya. Itu hanya sedikit cerita dari realita yang sudah terjadi dalam kehidupan jaman sekarang.
Teman, faktor ini juga terkadang menyesatkan. “pacar kamu ko ngga modal, masak ngajak makan di warung biasa”, “cowok loe ko kendaraannya Cuma pake motor butut gitu”, “kamu masih belom pernah dibeliin cowokmu baju pesta”, kata2 seperti itu yang terucap oleh teman yang katanya sahabat sejati tak menjerumuskan. Semua itu hanya omong kosong dan otak kosong. Dengan perkataan seperti itu, akan menciptakan tekanan pada psikologi bahwa cari pacar harus memenuhi standar tinggi. Bukan lagi karena ketulusan dan kejujuran tapi sudah merembet ke hal yang menurut aku tidak sepatutnya diikutkan. Cinta itu kejujuran, bukan cinta itu keuangan.
Kami, para pria kaum underclass telah banyak mengalami hal2 seperti itu, ditolak cewek karena masalah materi. Kami memang ditakdirkan menjadi orang yang serba kekurangan, dan mungkin jika bisa memilih kami tidak akan memilih menjadi orang yang serba kekurangan seperti ini. Memapah ketiadaan dalam kehidupan sehari-hari. Hidup dalam bayang2 ketidakmampuan. Namun satu hal yang ingin kami tanyakan, apakah kalian tidak bisa melihat kami dari sisi yang lain, dari sisi ketulusan kami.?
By BIBIL
Minggu, 02 Januari 2011
Kamis, 30 Desember 2010
Tentang Supporter Indonesia Yang Superior
Apa pendapat anda semua tentang supporter Indonesia? Yang terpikirkan pastinya Rusuh, Anarkis, Kejam, Geram dan sebagainya. Namun ketika melihat laga final piala AFF leg II, semuanya itu menjadi terbantahkan. Supporter Indonesia benar-benar menjadi supporter yang superior, pendukung sejati timnas, mendukung dengan penuh ketulusan dan semangat membara.
Saat pemain berbaris, dan national anthem of Indonesia mulai diputar, hati merasa merinding ketika 85 ribu penonton lebih di stadion dan 250 juta lebih rakyat Indonesia menyanyikan lagu Indonesia Raya penuh dengan gelora semangat perjuangan. Benar-benar malam yang membuat hati bergetir bangga.
Dalam sepakbola inilah rakyat bersatu dalam satu koar, yaitu sebagai bangsa penuh anugerah bernama INDONESIA. Tawa tukang Lalapan, tukang Sapu jalanan, sopir, dan rakyat jelata sejajar dengan tawa para konglomerat dan para penguasa Negara. Sepakbola telah menghilangkan sejenak kejenuhan rakyat akan masalah bangsa yang sudah busuk seperti korupsi dan kecacatan moral para pemimpin. Sepakbola telah mengubah segalanya, mengubah bangsa yang semula acuh tak acuh menjadi saling peduli.
Supporter, sekumpulan manusia yang dianggap sebagai pemain ke-12 dalam olahraga sepakbola. Dan pada malam 29 desember ini, saya sangat bangga bahkan terharu melihat supporter Indonesia yang sangat sportif dan selalu mendukung timnas penuh dengan kejujuran dan ketulusan. Kami (supporter) tidak selalu mengharapkan sebuah piagam penghargaan atau piala, kami supporter hanya ingin melihat perjuangan anak bangsa tanpa putus asa di atas rumput hijau, perjuangan yang rela darahnya bercucuran demi harga diri bangsa, perjuangan yang diiringi doa tulus dari kesatuan bangsa Indonesia.
Namun ada satu pesan untuk supporter Indonesia, jika pada saat timnas bisa bersatu menjadi satu kesatuan kelompok supporter yang harmonis dan tidak saling hujat, kenapa hal itu tidak diturunkan pada saat kita mendukung tim klub-klub dalam kompetisi regular di Indonesia? Alangkah indahnya jika kita mendukung klub kebanggaan dengan damai dan tanpa ada saling hujat bermusuhan.
Yang perlu diingat, kita sudah juara, juara dalam jiwa karena kita sudah menyalurkan seluruh jiwa raga kita untuk timnas, kita adalah juara yang sportif, juara sejati dalam setiap turnamen yang kita ikuti.
HIDUP TIMNAS, HIDUP SUPPORTER, HIDUP INDONESIA.
By BIBIL
Saat pemain berbaris, dan national anthem of Indonesia mulai diputar, hati merasa merinding ketika 85 ribu penonton lebih di stadion dan 250 juta lebih rakyat Indonesia menyanyikan lagu Indonesia Raya penuh dengan gelora semangat perjuangan. Benar-benar malam yang membuat hati bergetir bangga.
Dalam sepakbola inilah rakyat bersatu dalam satu koar, yaitu sebagai bangsa penuh anugerah bernama INDONESIA. Tawa tukang Lalapan, tukang Sapu jalanan, sopir, dan rakyat jelata sejajar dengan tawa para konglomerat dan para penguasa Negara. Sepakbola telah menghilangkan sejenak kejenuhan rakyat akan masalah bangsa yang sudah busuk seperti korupsi dan kecacatan moral para pemimpin. Sepakbola telah mengubah segalanya, mengubah bangsa yang semula acuh tak acuh menjadi saling peduli.
Supporter, sekumpulan manusia yang dianggap sebagai pemain ke-12 dalam olahraga sepakbola. Dan pada malam 29 desember ini, saya sangat bangga bahkan terharu melihat supporter Indonesia yang sangat sportif dan selalu mendukung timnas penuh dengan kejujuran dan ketulusan. Kami (supporter) tidak selalu mengharapkan sebuah piagam penghargaan atau piala, kami supporter hanya ingin melihat perjuangan anak bangsa tanpa putus asa di atas rumput hijau, perjuangan yang rela darahnya bercucuran demi harga diri bangsa, perjuangan yang diiringi doa tulus dari kesatuan bangsa Indonesia.
Namun ada satu pesan untuk supporter Indonesia, jika pada saat timnas bisa bersatu menjadi satu kesatuan kelompok supporter yang harmonis dan tidak saling hujat, kenapa hal itu tidak diturunkan pada saat kita mendukung tim klub-klub dalam kompetisi regular di Indonesia? Alangkah indahnya jika kita mendukung klub kebanggaan dengan damai dan tanpa ada saling hujat bermusuhan.
Yang perlu diingat, kita sudah juara, juara dalam jiwa karena kita sudah menyalurkan seluruh jiwa raga kita untuk timnas, kita adalah juara yang sportif, juara sejati dalam setiap turnamen yang kita ikuti.
HIDUP TIMNAS, HIDUP SUPPORTER, HIDUP INDONESIA.
By BIBIL
Selasa, 28 Desember 2010
Kaos Timnas yang Masih Aku Banggakan
Gejolak yang menggelora atas keberhasilan timnas memang menyentuh seluruh lapisan masyarakat, dari kaum bawah sampai konglomerat, dari pinggiran desa sampai kota termewah. Itu terlihat dari pernak-pernik timnas yang diburu habis2an oleh masyarakat Indonesia, apalagi semenjak ada pemain blasteran indo-belanda “IRFAN BACHDIM” yang membuat para kaum hawa bertekuk lutut melihat wajahnya yang imut2.
Sebelum pertandingan dimulai, aku dan salah satu teman kos memutuskan untuk membeli kaos timnas, ya itung2 dipakai waktu nonton bareng, biar lebih terlihat keren dan ok. Tidak disangka kaos yang aku pilih sangat bagus dan merasa nyaman jika memakainya.
Sayangnya, pada laga final 26 desember kemarin, Indonesia kalah 3-0 oleh tuan rumah Malaysia, kekalahan yang cukup menyakitkan. Ada yang bilang, faktor non-teknis banyak mempengaruhi permainan para punggawa timnas Garuda, terlepas dari insiden sinar laser yang dilakukan oleh pendukung Malaysia, faktor non-teknis lainnya adalah banyaknya orang selain tim pelatih yang menentukan jadwal2 tidak penting harus dihadiri oleh pemain timnas, sehingga disinyalir konsentrasi para pemain menjadi terpecah dan tidak fokus. Dan terlepas dari itu, aku tetap bangga melihat perjuangan anak bangsa sampai habis-habis’an.
Jajaran pejabat PSSI disebut-sebut mempolitisir timnas dan terlalu ikut campur yang menyebabkan tim pelatih tidak mempunyai kekuasaan penuh untuk mengatur dan menjaga kondisi para pemainnya. PSSI juga dianggap tidak becus dalam mengordinir penjualan tiket, sangat amburadul dan tidak memuaskan, animo masyarakat yang begitu besar tidak diimbangi dengan pelayanan yang maksimal. Pembelian tiket terlalu berbelit-belit, dari mulai antri kupon-antri voucher-penukaran voucher, dianggap prosesnya terlalu lama dan memakan banyak tenaga para pengantri tiket. Seharusnya PSSI mau mengeluarkan uang untuk jasa pengamanan pembelian tiket, serta memperbanyak agen-agen penjualan tiket sehingga massa tidak berkumpul dalam suatu titik dan mengantri di tempat yang sama, itu yang menyebabkan kericuhan sering terjadi pada saat pengantrian tiket, juga karena faktor ketidakjelasan PSSI dalam menginformasikan berapa banyak tiket yang dijual.
Sedikit saran yang bisa aku sampaikan mengenai PSSI, untuk jajaran pejabat dan pengurus PSSI yang terhormat, aku dan mungkin mewakili teman-teman yang mempunyai pandangan pendapat yang sama, “BUAT REGENERASI PEMAIN BOLA”, artinya, penjaringan bakat-bakat muda di Indonesia harus lebih ditingkatkan lagi, selain mengirim tim untuk berlaga di kompetisi luar negeri (Tim SAD U-17 yang berlaga di Uruguay), tapi harus juga diadakan kompetisi usia dini, U-13 U-15 U-17 U-19, jadi ada regenerasi yang terus menerus akan menciptakan pemain muda Indonesia berbakat.
Semoga saja Indonesia lebih baik lagi dan lebih dipandang tinggi dalam dunia persepakbolaan dunia. Amin.
By BIBIL
Sebelum pertandingan dimulai, aku dan salah satu teman kos memutuskan untuk membeli kaos timnas, ya itung2 dipakai waktu nonton bareng, biar lebih terlihat keren dan ok. Tidak disangka kaos yang aku pilih sangat bagus dan merasa nyaman jika memakainya.
Sayangnya, pada laga final 26 desember kemarin, Indonesia kalah 3-0 oleh tuan rumah Malaysia, kekalahan yang cukup menyakitkan. Ada yang bilang, faktor non-teknis banyak mempengaruhi permainan para punggawa timnas Garuda, terlepas dari insiden sinar laser yang dilakukan oleh pendukung Malaysia, faktor non-teknis lainnya adalah banyaknya orang selain tim pelatih yang menentukan jadwal2 tidak penting harus dihadiri oleh pemain timnas, sehingga disinyalir konsentrasi para pemain menjadi terpecah dan tidak fokus. Dan terlepas dari itu, aku tetap bangga melihat perjuangan anak bangsa sampai habis-habis’an.
Jajaran pejabat PSSI disebut-sebut mempolitisir timnas dan terlalu ikut campur yang menyebabkan tim pelatih tidak mempunyai kekuasaan penuh untuk mengatur dan menjaga kondisi para pemainnya. PSSI juga dianggap tidak becus dalam mengordinir penjualan tiket, sangat amburadul dan tidak memuaskan, animo masyarakat yang begitu besar tidak diimbangi dengan pelayanan yang maksimal. Pembelian tiket terlalu berbelit-belit, dari mulai antri kupon-antri voucher-penukaran voucher, dianggap prosesnya terlalu lama dan memakan banyak tenaga para pengantri tiket. Seharusnya PSSI mau mengeluarkan uang untuk jasa pengamanan pembelian tiket, serta memperbanyak agen-agen penjualan tiket sehingga massa tidak berkumpul dalam suatu titik dan mengantri di tempat yang sama, itu yang menyebabkan kericuhan sering terjadi pada saat pengantrian tiket, juga karena faktor ketidakjelasan PSSI dalam menginformasikan berapa banyak tiket yang dijual.
Sedikit saran yang bisa aku sampaikan mengenai PSSI, untuk jajaran pejabat dan pengurus PSSI yang terhormat, aku dan mungkin mewakili teman-teman yang mempunyai pandangan pendapat yang sama, “BUAT REGENERASI PEMAIN BOLA”, artinya, penjaringan bakat-bakat muda di Indonesia harus lebih ditingkatkan lagi, selain mengirim tim untuk berlaga di kompetisi luar negeri (Tim SAD U-17 yang berlaga di Uruguay), tapi harus juga diadakan kompetisi usia dini, U-13 U-15 U-17 U-19, jadi ada regenerasi yang terus menerus akan menciptakan pemain muda Indonesia berbakat.
Semoga saja Indonesia lebih baik lagi dan lebih dipandang tinggi dalam dunia persepakbolaan dunia. Amin.
By BIBIL
Sabtu, 25 Desember 2010
Sedikit Memikirkan Dimana Keberuntungan?
Tulisan ini hanya berisi gabungan2 cerita yang terkadang dianggap kurang mempunyai makna. Cerita tentang harapan, kegelisahan, kegagalan, dan keberuntungan. Bingung juga apa yang harus ditulis dalam membuka jalan cerita yang menyesatkan ini.
25 Desember pagi, 05.13 AM sms masuk di hp dual-sim seharga 750ribu. Terbaca pukul 08.57 AM dan berbunyi :
“Bil, Mbak Rouh sudah ngga ada (meninggal) semalem jam 10”.
.hmh,. Mbak Rouh adalah anak dari kakak ipar ortu aku, seorang guru SMP yang membesarkan 2 orang anaknya sendirian karena bercerai dengan suaminya. Aku biasanya memanggil dengan sebutan jawa khas “yu’ Rouh”. Memang tidak terlalu dekat dengan Mbak Rouh, bisa dibilang jarang sekali berkomunikasi langsung dengannya. Begitu juga dengan anak2ny, aku juga jarang berkomunikasi langsung, bahkan bisa dibilang belom pernah berkomunikasi sejak terakhir jamanku lulus TK.
Semoga amal & ibadah Mbak Rouh diterima di sisi Allah SWT. Amin.,.
Itu sedikit cerita tentang berita duka, berita yang tak jauh beda dengan kegagalanku dalam setiap hal, kegagalan yang serasa sudah menjadi sahabat akrab dalam perjalanan hidupku masa kini.
Pertengahan bulan desember ini, aku mengenal seorang wanita yang tak tahunya ternyata satu kampus, bermula dari melihat profilnya dalam dunia maya dan akhirnya berkenalan dengan tanpa basa-basi.
17 Desember 2010 07.36 PM, pertama kalinya aku mengirim SMS dari hp dual-sim seharga 750ribu, dan tak kukira dia merespon dengan sangat baik dan begitu indahnya. Tapi berkaca dalam kejadian yang sebelumnya, aku mematikan harapanku yang selalu besar, untuk melihat dulu ke step selanjutnya.
Dan tanpa kusadari, aku mulai gelisah memikirkan dirinya yang menurutku sudah Nampak indah, terlihat dari bentuk kata sms di hp dual-sim seharga 750ribu. Setengah pikiran menjadi tercurah pada sosoknya yang kubayangkan tiap sebelum tidur.
20 Desember 2010 07.02 PM, seperti hari2 sebelumnya, kami saling membalas sms penuh canda, sedikit dengan keraguan, aku beranikan diri untuk meminta berkunjung ke kostnya. Dan tak disangka dia sangat baik sekali untuk menyetujui. Kondisi tubuh yang baru bangun membuat diriku bergegas ke kamar mandi, memakai celana + kaos dan tak lupa sedikit parfum.
Tak lama, Aku sudah berdiri di depan kostnya,
“.hmh.,”
Dia keluar dan memanggilku, aku seperti terpaku terpanah terbata-bata, dia lebih indah dalam dunia nyata daripada dunia maya yang penuh kebohongan. Yang paling kuingat, “Rambutnya panjang dan matanya indah”. Kami bercerita banyak hal, dan berharap tidak ada suasana yang garing dan tegang seperti tes di angkatan militer.
Waktu berjalan begitu cepat, kami berpisah. Dan aku merasa indah, tapi tidak tahu apakah dia merasa indah juga atau merasa muak dan muntah setelah melihatku.?
Biasanya saat selesai bertemu langsung, ini yang menentukan untuk membuktikan dia merasa muak atau tidak. Ya, dengan mencoba mengirim sms, kalau dia enggan membalasnya, maka dia memang muak, dan bila dibalasnya seperti biasa, maka dia merasa mungkin sedikit nyaman, tapi tidak tahu juga kalo dia membalasnya buat hanya nge-jaga perasaan kita aja.
Dan mungkin dia masih belom merasa muak denganku yang artinya dia membalas sms seperti biasa di hari2 sebelumnya. Malam ini memang terasa sedikit memberikan harapan.
“I hope this really a good start”, kata itu yang terlintas dalam otak. Namun bayangan buruk muncul kembali di pikiran. Jujur saja, dalam beberapa waktu terakhir ke-TIDAK-beruntungan selalu menghampiriku, entah kenapa aku juga tidak tahu.
Untuk saat ini, memang ada harapan dan impian yang DIA (wanita berambut panjang dan bermata indah) ciptakan, tapi aku memang harus bersiap untuk sadar diri, jika saja DIA tidak berminat atau merasa muak denganku.
Karena memang banyak orang yang tiba2 ill feel, tanpa pernah aku sadar apa penyebabnya. Apakah memang wajahku terlalu buruk, apakah aku seperti orang cacat, apakah ketulusan tidak bisa menghapus rasa itu, apakah memang aku selalu menjadi “YANG TERHINA” ?
By BIBIL
25 Desember pagi, 05.13 AM sms masuk di hp dual-sim seharga 750ribu. Terbaca pukul 08.57 AM dan berbunyi :
“Bil, Mbak Rouh sudah ngga ada (meninggal) semalem jam 10”.
.hmh,. Mbak Rouh adalah anak dari kakak ipar ortu aku, seorang guru SMP yang membesarkan 2 orang anaknya sendirian karena bercerai dengan suaminya. Aku biasanya memanggil dengan sebutan jawa khas “yu’ Rouh”. Memang tidak terlalu dekat dengan Mbak Rouh, bisa dibilang jarang sekali berkomunikasi langsung dengannya. Begitu juga dengan anak2ny, aku juga jarang berkomunikasi langsung, bahkan bisa dibilang belom pernah berkomunikasi sejak terakhir jamanku lulus TK.
Semoga amal & ibadah Mbak Rouh diterima di sisi Allah SWT. Amin.,.
Itu sedikit cerita tentang berita duka, berita yang tak jauh beda dengan kegagalanku dalam setiap hal, kegagalan yang serasa sudah menjadi sahabat akrab dalam perjalanan hidupku masa kini.
Pertengahan bulan desember ini, aku mengenal seorang wanita yang tak tahunya ternyata satu kampus, bermula dari melihat profilnya dalam dunia maya dan akhirnya berkenalan dengan tanpa basa-basi.
17 Desember 2010 07.36 PM, pertama kalinya aku mengirim SMS dari hp dual-sim seharga 750ribu, dan tak kukira dia merespon dengan sangat baik dan begitu indahnya. Tapi berkaca dalam kejadian yang sebelumnya, aku mematikan harapanku yang selalu besar, untuk melihat dulu ke step selanjutnya.
Dan tanpa kusadari, aku mulai gelisah memikirkan dirinya yang menurutku sudah Nampak indah, terlihat dari bentuk kata sms di hp dual-sim seharga 750ribu. Setengah pikiran menjadi tercurah pada sosoknya yang kubayangkan tiap sebelum tidur.
20 Desember 2010 07.02 PM, seperti hari2 sebelumnya, kami saling membalas sms penuh canda, sedikit dengan keraguan, aku beranikan diri untuk meminta berkunjung ke kostnya. Dan tak disangka dia sangat baik sekali untuk menyetujui. Kondisi tubuh yang baru bangun membuat diriku bergegas ke kamar mandi, memakai celana + kaos dan tak lupa sedikit parfum.
Tak lama, Aku sudah berdiri di depan kostnya,
“.hmh.,”
Dia keluar dan memanggilku, aku seperti terpaku terpanah terbata-bata, dia lebih indah dalam dunia nyata daripada dunia maya yang penuh kebohongan. Yang paling kuingat, “Rambutnya panjang dan matanya indah”. Kami bercerita banyak hal, dan berharap tidak ada suasana yang garing dan tegang seperti tes di angkatan militer.
Waktu berjalan begitu cepat, kami berpisah. Dan aku merasa indah, tapi tidak tahu apakah dia merasa indah juga atau merasa muak dan muntah setelah melihatku.?
Biasanya saat selesai bertemu langsung, ini yang menentukan untuk membuktikan dia merasa muak atau tidak. Ya, dengan mencoba mengirim sms, kalau dia enggan membalasnya, maka dia memang muak, dan bila dibalasnya seperti biasa, maka dia merasa mungkin sedikit nyaman, tapi tidak tahu juga kalo dia membalasnya buat hanya nge-jaga perasaan kita aja.
Dan mungkin dia masih belom merasa muak denganku yang artinya dia membalas sms seperti biasa di hari2 sebelumnya. Malam ini memang terasa sedikit memberikan harapan.
“I hope this really a good start”, kata itu yang terlintas dalam otak. Namun bayangan buruk muncul kembali di pikiran. Jujur saja, dalam beberapa waktu terakhir ke-TIDAK-beruntungan selalu menghampiriku, entah kenapa aku juga tidak tahu.
Untuk saat ini, memang ada harapan dan impian yang DIA (wanita berambut panjang dan bermata indah) ciptakan, tapi aku memang harus bersiap untuk sadar diri, jika saja DIA tidak berminat atau merasa muak denganku.
Karena memang banyak orang yang tiba2 ill feel, tanpa pernah aku sadar apa penyebabnya. Apakah memang wajahku terlalu buruk, apakah aku seperti orang cacat, apakah ketulusan tidak bisa menghapus rasa itu, apakah memang aku selalu menjadi “YANG TERHINA” ?
By BIBIL
Langganan:
Postingan (Atom)






