Apa pendapat anda semua tentang supporter Indonesia? Yang terpikirkan pastinya Rusuh, Anarkis, Kejam, Geram dan sebagainya. Namun ketika melihat laga final piala AFF leg II, semuanya itu menjadi terbantahkan. Supporter Indonesia benar-benar menjadi supporter yang superior, pendukung sejati timnas, mendukung dengan penuh ketulusan dan semangat membara.
Saat pemain berbaris, dan national anthem of Indonesia mulai diputar, hati merasa merinding ketika 85 ribu penonton lebih di stadion dan 250 juta lebih rakyat Indonesia menyanyikan lagu Indonesia Raya penuh dengan gelora semangat perjuangan. Benar-benar malam yang membuat hati bergetir bangga.
Dalam sepakbola inilah rakyat bersatu dalam satu koar, yaitu sebagai bangsa penuh anugerah bernama INDONESIA. Tawa tukang Lalapan, tukang Sapu jalanan, sopir, dan rakyat jelata sejajar dengan tawa para konglomerat dan para penguasa Negara. Sepakbola telah menghilangkan sejenak kejenuhan rakyat akan masalah bangsa yang sudah busuk seperti korupsi dan kecacatan moral para pemimpin. Sepakbola telah mengubah segalanya, mengubah bangsa yang semula acuh tak acuh menjadi saling peduli.
Supporter, sekumpulan manusia yang dianggap sebagai pemain ke-12 dalam olahraga sepakbola. Dan pada malam 29 desember ini, saya sangat bangga bahkan terharu melihat supporter Indonesia yang sangat sportif dan selalu mendukung timnas penuh dengan kejujuran dan ketulusan. Kami (supporter) tidak selalu mengharapkan sebuah piagam penghargaan atau piala, kami supporter hanya ingin melihat perjuangan anak bangsa tanpa putus asa di atas rumput hijau, perjuangan yang rela darahnya bercucuran demi harga diri bangsa, perjuangan yang diiringi doa tulus dari kesatuan bangsa Indonesia.
Namun ada satu pesan untuk supporter Indonesia, jika pada saat timnas bisa bersatu menjadi satu kesatuan kelompok supporter yang harmonis dan tidak saling hujat, kenapa hal itu tidak diturunkan pada saat kita mendukung tim klub-klub dalam kompetisi regular di Indonesia? Alangkah indahnya jika kita mendukung klub kebanggaan dengan damai dan tanpa ada saling hujat bermusuhan.
Yang perlu diingat, kita sudah juara, juara dalam jiwa karena kita sudah menyalurkan seluruh jiwa raga kita untuk timnas, kita adalah juara yang sportif, juara sejati dalam setiap turnamen yang kita ikuti.
HIDUP TIMNAS, HIDUP SUPPORTER, HIDUP INDONESIA.
By BIBIL
Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan
Kamis, 30 Desember 2010
Selasa, 19 Januari 2010
indonesia, pusat pemerintahan dan perekonomian
Jakarta, merupakan ibukota Negara Indonesia tercinta, merupakan kota terbesar di Indonesia, dan tentunya diikuti oleh kepadatan penduduk yang sangat membludak. Banyak perantau yagn mengadu nasib di kota metropolitan itu, karena tidak adanya kepastian pekerjaan di daerah asal mereka. Namun, para pendatang ini datang dengan kemampuan yang terbatas. Otomatis yang terjadi di ibukota adalah banyaknya pengangguran dan gelandangan yang semuanya merupakan korban dari “Syndrome mengadu nasib”.
Masalah ini mungkin masih di batas kemampuan kita untuk menanganinya, tapi kalau hal ini dibiarkan berlarut-larut, maka akan menimbulkan sesuatu masalah yang lebih besar lagi. Salah satu solusi ekstrim untuk hal ini adalah kita harus mengubah atau lebih tepatnya memilih apakah Jakarta menjadi sebagai pusat pemerintahan , atau hanya sebagai pusat perekonomian, artinya kita harus memilih dari salah satu opsi tersebut. Tidak bisa kita menjalankan dua fungsi tersebut di satu kota saja. Memang untuk saat ini hal itu masih bisa dilakukan, namun untuk dalam jangka waktu yang panjang, hal ini tidak bisa untuk terus dilaksanakan. Ibaratnya, kota Jakarta itu seperti lampu, yang semakin hari akan semakin banyak laron yang menutupinya, dan pada akhirnya lampu itu tidak akan terang lagi karena sudah tertutup oleh laron yang semakin banyak.
Opsi yang saya tawarkan ini memang tidak sepenuhnya akan berjalan sempurna, karena saya yakin di dunia ini tidak ada solusi atau sesuatu hal yang mempunyai sisi positif 100%, artinya pasti ada sisi negative dari hal tersebut, namun kita harus melihat seberapa besar proporsinya antara sisi positif dan negative tersebut, missal perbandingannya 90:10, maka solusi tersebut saya anggap mempunyai prospek yang sangat bagus untuk dilaksanakan.
Saya mencoba untuk menjabarkan ide untuk mengubah Jakarta menjadi salah satu fungsi saja, antara pusat pemerintahan atau pusat perekonomian. Artinya, salah satu fungsi tersebut harus dipindahkan ke kota lain yang mempunyai wilayah strategis dan SDM yang maju pula. Kita bisa memilih calon kota pengganti itu pada wilayah yang mudah dijangkau oleh publik. Jika kita berani melakukan inovasi, kita bias memilih salah satu kota di luar jawa untuk bisa melaksanakan fungsi tersebut. Mengapa saya mengambil contoh kota dari luar wilayah jawa, tak lain adalah untuk pemerataan penduduk. Artinya , secara tidak langsung pemerataan penduduk akan secara otomatis akan berlangsung. Para pembaca mungkin sudah mengerti apa yang saya maksudkan bahwa jika pusat perekonomian dipindahkan ke kota lain (salah satu kota di luar jawa ) maka akan tercipta pembangunan, jika tercipta pembangunan, maka akan tercipta banyak lapangan pekerjaan.
Jika Jakarta tetap menjadi pusat pemerintahan dan pusat perekonomian, maka Jakarta akan “mati suri” dalam beberapa decade mendatang. Memang solusi yang saya tulis ini masih konsep dasar dan masih banyak kekurangannya, namun bila tidak ada tindakan segera, hal ini akan lebih berbahaya loagi.
Mari kita ciptakan solusi-solusi yang terbaik untuk membangun bangsa dan negeri tercinta ini.
By BIBIL
Masalah ini mungkin masih di batas kemampuan kita untuk menanganinya, tapi kalau hal ini dibiarkan berlarut-larut, maka akan menimbulkan sesuatu masalah yang lebih besar lagi. Salah satu solusi ekstrim untuk hal ini adalah kita harus mengubah atau lebih tepatnya memilih apakah Jakarta menjadi sebagai pusat pemerintahan , atau hanya sebagai pusat perekonomian, artinya kita harus memilih dari salah satu opsi tersebut. Tidak bisa kita menjalankan dua fungsi tersebut di satu kota saja. Memang untuk saat ini hal itu masih bisa dilakukan, namun untuk dalam jangka waktu yang panjang, hal ini tidak bisa untuk terus dilaksanakan. Ibaratnya, kota Jakarta itu seperti lampu, yang semakin hari akan semakin banyak laron yang menutupinya, dan pada akhirnya lampu itu tidak akan terang lagi karena sudah tertutup oleh laron yang semakin banyak.
Opsi yang saya tawarkan ini memang tidak sepenuhnya akan berjalan sempurna, karena saya yakin di dunia ini tidak ada solusi atau sesuatu hal yang mempunyai sisi positif 100%, artinya pasti ada sisi negative dari hal tersebut, namun kita harus melihat seberapa besar proporsinya antara sisi positif dan negative tersebut, missal perbandingannya 90:10, maka solusi tersebut saya anggap mempunyai prospek yang sangat bagus untuk dilaksanakan.
Saya mencoba untuk menjabarkan ide untuk mengubah Jakarta menjadi salah satu fungsi saja, antara pusat pemerintahan atau pusat perekonomian. Artinya, salah satu fungsi tersebut harus dipindahkan ke kota lain yang mempunyai wilayah strategis dan SDM yang maju pula. Kita bisa memilih calon kota pengganti itu pada wilayah yang mudah dijangkau oleh publik. Jika kita berani melakukan inovasi, kita bias memilih salah satu kota di luar jawa untuk bisa melaksanakan fungsi tersebut. Mengapa saya mengambil contoh kota dari luar wilayah jawa, tak lain adalah untuk pemerataan penduduk. Artinya , secara tidak langsung pemerataan penduduk akan secara otomatis akan berlangsung. Para pembaca mungkin sudah mengerti apa yang saya maksudkan bahwa jika pusat perekonomian dipindahkan ke kota lain (salah satu kota di luar jawa ) maka akan tercipta pembangunan, jika tercipta pembangunan, maka akan tercipta banyak lapangan pekerjaan.
Jika Jakarta tetap menjadi pusat pemerintahan dan pusat perekonomian, maka Jakarta akan “mati suri” dalam beberapa decade mendatang. Memang solusi yang saya tulis ini masih konsep dasar dan masih banyak kekurangannya, namun bila tidak ada tindakan segera, hal ini akan lebih berbahaya loagi.
Mari kita ciptakan solusi-solusi yang terbaik untuk membangun bangsa dan negeri tercinta ini.
By BIBIL
Langganan:
Postingan (Atom)



